Pembahasan selanjutnya dari Syarh Aqidah Al-Wasithiyah adalah menjelaskan sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang selalu berada di tengah di antara aliran-aliran sesat selain mereka dalam masalah apa pun. Mereka berada ditengah antara Jabriyah dan Qadariyah, antara Murji’ah Dan Kaum Wa’idiyah dll. Bahasan ini juga sekaligus mengenalkan kepada para pembaca akan golongan-golongan sesat dan bahaya pemahaman mereka.
5.1 Sikap Pertengahan Ahlus Sunnah Diantara Firqah Sesat Dalam Masalah
Sifat Allah
Umat Islam adalah umat yang wasath, berada di tengah-tengah
dibandingkan dengan berbagai agama lain. Sebagaimana firman Allah,
Demikianlah, Kami telah menjadikan kamu sekalian umat yang wasath.
(Al-Baqarah: 143)
Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kelompok pertengahan dibandingkan
dengan kelompok-kelompok yang menisbahkan dirinya kepada Islam. Mereka
adalah orang-orang yang pertengahan antara orang-orang Jahmiyah yang
menafikan sifat-sifat dan nama-nama Allah, yang melucuti Allah dari
sifat-sifat-Nya, yang karena itu mereka disebut sebagai Ahli Ta’thil
dengan Ahli Tamtsil, yaitu kelompok yang berseberangan dengan Jahmiyah,
yang meyakini sifat-sifat Allah, akan tetapi mereka menjadikan sifat-sifat
tersebut sebagaimana sifat-sifat makhluk.
Maka mereka mengatakan, "Tangan Allah sebagaimana tangan
makhluk dan pendengaran Allah sebagaimana pendengaran makhluk."
Maha Suci Allah dari perkataan orang-orang zhalim itu.
Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah, menetapkan sifat-sifat Allah tanpa
menyerupakanya. Mereka me-Mahasucikan Allah dari keserupaan dengan
para makhluk, tanpa meniadakannya. Mereka memadukan antara Tanzih
(pemahasucian) dengan Itsbat (penetapan).
Allah telah membantah kedua kelompok yang menyimpang di atas dengan
firman-Nya,
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.
Firman-Nya, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan
Dia…" adalah bantahan terhadap kaum musyabbihah
(yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya -pent), sedangkan
firman Allah, "dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi
Maha Melihat" adalah bantahan terhadap kaum mu’athilah
(yang menafikan / meniadakan sifat-sifat Allah -pent).
5.2 Sikap Pertengahan Ahlus Sunnah Antara Jabriyah dan Qadariyah Dalam
Masalah Perbuatan Hamba
Ahlus Sunnah memiliki sikap yang pertengahan antara penganut paham
Jabriyah dan Qadariyah, serta yang lainnya. Kaum Jabriyah
yang juga merupakan penganut paham Jahmiyah dan pengikut Jahm bin
Shafwan, mengatakan,
Sesungguhnya, para hamba itu dipaksa atas perbuatan dan gerakan-gerakannya,
serta dalam seluruh perilakunya, sebagaimana urat-urat yang berdenyut,
kesemuanya merupakan perbuatan Allah.
Adapun kaum Qadariyah yaitu orang-orang mu’tazilah
pengikut Ma’bad Al-Juhainiy beserta orang-orang yang sepaham dengan
mereka, mengatakan,
Sesungguhnya, hambalah yang menciptakan perbuatan-perbuatannya, tanpa
campur tangan kehendak dan kekuasaan Allah.
Jadi, mereka mengingkari bahwa Allah adalah pencipta perbuatan-perbuatan
para hamba. Mereka mengatakan, "Allah tidak menghendakinya
dan tidak menginginkannya."
Allah telah memberikan petunjuk kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk
menjadi kaum yang pertengahan di antara kedua kelompok ini. Mereka
mengatakan,
Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah yang menciptakan para hamba berikut
perbuatan-perbuatan mereka, akan tetapi mereka para hamba tersebut
benar-benar melakukannya dan memiliki kemampuan untuk melakukannya,
sedangkan Allah adalah yang menciptakan mereka dan segala kemampuan
mereka. Allah berfirman,
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat.
(Ash-Shafat: 96).
Ahlus Sunnah juga meyakini bahwa seorang hamba memiliki kehendak dan
ikhtiar yang mengikuti kehendak Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan
kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila
dikehendaki oleh Rabb semesta alam. (At-Takwir: 28 - 29).
5.3 Sikap Pertengahan Ahlus Sunnah Antara Kaum Murji’ah Dan Kaum Wa’idiyah
Dari Golongan Qadariyah Dalam Masalah Ancaman Allah
Murji’ah:
berasal dari kata irja’, yang artinya
menangguhkan.
Mereka dinamakan demikian karena mereka menunda amal dari iman. Mereka
mengatakan,
Suatu dosa tidak memberikan mudharat dengan adanya iman, sebagaimana
suatu ketaatan tidak berguna dengan adanya kekafiran.
Jadi, menurut mereka, amal tidaklah termasuk dalam sebutan iman. Iman
itu tidak bertambah dan tidak berkurang, dan seorang pelaku dosa besar
itu memiliki keimanan yang sempurna dan tidak terkena ancaman siksa.
Pendapat mereka ini batil berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah.
Adapun Wa’idiyah adalah golongan yang mengatakan,
Bedasarkan rasio, Allah haruslah menyiksa orang yang bermaksiat sebagaimana
harus memberi pahala orang yang berbuat ketaatan. Maka barangsiapa
yang meninggal dalam berbuat dosa besar dan belum bertaubat, maka
ia kekal di neraka selama-lamanya.
Ini merupakan salah satu prinsip Mu’tazilah yang juga diyakini oleh
kaum Khawarij. Mereka berkata, "Karena Allah tidak menyelisihi
janji." Pendapat mereka ini batil dan bertentangan dengan
Al-Kitab dan As-Sunnah. Allah Ta’ala berfirman,
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni
segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
(An-Nisa’: 48).
Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah, memiliki sikap yang pertengahan dalam
masalah ancaman Allah ini, di antara kedua kelompok ini. Mereka mengatakan,
Sesungguhnya seorang pelaku do sa besar itu beriman dengan keimanannya
tetapi juga fasik karena perbuatan dosa besarnya, atau seorang mukmin
yang kurang sempurna imannya. Apabila ia mati sebelum bertaubat, maka
ia berada di bawah kehendak Allah. Bila Dia menghendaki, Dia mengampuninya
dengan kasih sayang dan karunia-Nya serta memasukkannya ke Jannah
sejak awal.
Dan bila Dia menghendaki, Dia akan menyiksanya dengan keadilan-Nya,
sesuai dengan kadar dosa-dosanya di dalam Neraka, akan tetapi ia tidak
kekal di dalamnya, melainkan akan keluar setelah disucikan dan dibersihkan
dari dosa-dosa dan kemaksiatan, dan akhirnya ia akan masuk ke Jannah
berkat syafa’at atau karunia dan rahmat Allah. Dan kesemua itu merupakan
karunia dari Allah Ta’ala.
Ahlus Sunnah mengatakan,
Menyelisihi ancaman merupakan kemurahan, berbeda dengan menyelisihi
janji kebaikan. Menyelisihi ancaman merupakan perbuatan terpuji, tidak
sebagaimana menyelisihi janji kebaikan. Seorang penyair berkata,
Sungguh, bila aku mengancamnya atau menjanjikan kebaikan untuknya,
Kuselisihi ancamanku, dan kupenuhi janji baikku.
# Sikap Pertengahan Ahlus Sunnah wal Jama'ah (1)
Label:
wacana